Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Makalah Struktur Kalimat - Bahasa Indonesia - maswijaba

maswijaba.my.id

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kita panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada saya, sehingga kita dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Struktur Kalimat.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah yang berjudul Struktur Kalimat ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.


Tangerang, Maret 2018


Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................             i
DAFTAR ISI ................................................................................................             ii
DAFTAR TABEL ........................................................................................             iii
BAB I PENDAHULUAN
A.                Latar Belakang .........................................................................             1
B.                 Rumusan Masalah ....................................................................             1
C.                 Tujuan ......................................................................................             2
D.                Manfaat ....................................................................................             2
BAB II PEMBAHASAN
A.                Landasan Teori .........................................................................             3
B.                 Pengertian Kalimat ...................................................................             3
C.                 Unsur- Unsur Kalimat ..............................................................             4
D.                Jenis – Jenis Kalimat ................................................................             7
E.                 Kesalahan Dalam Kalimat ........................................................             9
BAB III PENUTUP
A.                Kesimpulan ..............................................................................           12
B.                 Saran ........................................................................................           12
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................             13
LAMPIRAN .................................................................................................             14




DAFTAR TABEL


Tabel 2.1 : Penghubung Klausa Dalam Kalimat Majemuk Setara ............................   9
Tabel 2.2 : Penggabung Klausa Dalam Kalimat Majemuk Bertingkat ..........             11


BAB I

PENDAHULUAN

A.         Latar Belakang

            Kalimat adalah bagian ujaran yang mempunyai struktur minimal subjek (S) dan predikat (P) dan intonasinya menunjukkan bagian ujaran itu sudah lengkap dengan makna. Intonasi final kalimat dalam bahasa tulis adalah berupa tanda baca titik, tanda tanya, atau tanda seru. Penetapan struktur minimal S dan P dalam hal ini menunjukkan bahwa kalimat bukanlah semata-mata gabungan atau rangkaian kata yang tidak mempunyai kesatuan bentuk. Lengkap dengan makna menunjukkan sebuah kalimat harus mengandung pokok pikiran yang lengkap sebagai pengungkap maksud penuturannya. Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan bahasa sebagai sarana berpikir dan berkomunikasi, banyak ditentukan oleh penguasaan kaidah kalimat yang didukung oleh kosakata yang memadai.
            Hal inilah yang kemudian menarik untuk diketahui tentang bagaimana pengertian kalimat, bagian- bagiannya dan jenis kalimat tunggal. Oleh karena itu penulis berusaha untuk memberikan pemahaman tentang  pertanyaan tersebut dalam makalah ini. Semoga makalah ini dapat menjadi jawaban dan memberikan pemahaman terkait pertanyaan yang dikaji.

B.          Rumasan Masalah

1. Apa yang dimaksud kalimat?
2. Apa saja unsur – unsur kalimat?
3. Apa saja pola kalimat dasar?
4. Apa saja jenis – jenis kalimat?
5. Apa saja yang menjadi kesalahan dalam kalimat?

C.         Tujuan

1. Untuk mengetahui apa itu kalimat.
2. Untuk mengetahui apa saja unsur – unsur kalimat.
3. Untuk mengetahui pola kalimat dasar.
4. Untuk mengetahui apa saja jenis – jenis kalimat.
5. Untuk mengetahui apa yang menjadi kesalahan dalam kalimat.

D.         Manfaat

1.      Manfaat Teoritis
a.       Dapat dijadikan sebagai sumber informasi terkait pemahaman mengenai pengertian dan bagian – bagian serta jenis – jenis kalimat.
b.      Dapat dijadikan sebagai proses pembelajaran di dalam penulisan makalah.
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi Penulis, berharap dapat menambah dan memperluas wawasan pegetahuan tentang kalimat. Serta sebagai alat untuk mentransformasikan ilmu yang telah didapat mengenai struktur kalimat.
b.      Bagi Pembaca, makalah ini diharap dapat memberikan pengetahuan atau referensi bagi pihak – pihak yang mempunyai permasalahan yang sama atau ingin mengadakan penelitain lanjut.

BAB II

PEMBAHASAN

A.          Landasan Teori

1.      Struktur
Struktur adalah sebuah susunan atau gambaran yang mendasar dan kadang tidak berwujud, yang mencakup pengenalan, observasi, sifat dasar, dan stabilitas dari pola – pola dan hubungan antar banyak satuan terkecil di dalamnya.
2.      Kalimat
Kalimat yaitu rangkaian kata yang dapat mengungkapkan gagasan, pikiran, atau perasaan. Kalimat merupakan satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan pikiran yang utuh, baik dengan cara lisan maupun tulisan.
Kalimat yang benar harus memiliki kelengkapan unsur kalimat. Selain itu pengenalan ciri-ciri unsur kalimat juga berperan untuk menguraikan kalimat atas unsur – unsurnya. Dari unsur pembentukannya, kalimat itu dapat dibedakan atas kalimat tunggal dan kalimat majemuk.
3.      Struktur Kalimat
Struktur Kalimat yaitu kalimat yang tersusun dari unsur – unsur kalimat yang sifatnya relatif tetap, unsur – unsur tersebut subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan.

B.           Pengertian Kalimat

Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang merupakan kesatuan pikiran (Widjono, 2007). Kalimat dapat dibedakan menjadi bahasa lisan dan bahasa tulis. Dalam bahasa lisan, kalimat adalah satuan bahasa yang terbentuk atas gabungan kata dengan kata, gabungan kata dengan frasa, atau gabungan frasa dengan frasa, yang minimal berupa sebuah klausa bebas yang minimal mengandung satu subjek dan prediket, satuan bahasa itu didahului oleh suatu kesenyapan awal, diselingi atau tidak diselingi oleh kesenyapan antara dan diakhiri dengan kesenyapan akhir yang berupa intonasi final, yaitu intonasi berita, tanya, intonasi perintah, dan intonasi kagum. Dalam bahasa tulis, kalimat adalah satuan bahasa yang diawali oleh huruf kapital, diselingi atau tidak diselingi tanda koma (,), titik dua (:), atau titik koma (;), dan diakhiri dengan lambang intonasi final yaitu tanda titik (.), tanda tanya (?), atau tanda seru (!).
Berikut ini merupakan beberapa pengertian kalimat menurut para ahli, yaitu:
1.      Dardjowidjojo (1998 : 254)
Kalimat ialah bagian terkecil dari suatu ujaran atau teks (wacana) yang mengungkapkan pikiran yang utuh secara ketatabahasaan.
2.      Slametmuljana (1996)
Kalimat sebagai keseluruhan pemakaian kata yang berlagu, disusun menurut sistem bahasa yang bersangkutan.
3.      Kridalaksana (2001:92)
Kalimat sebagai satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final, dan secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa.

C.          Unsur – Unsur Kalimat

Suatu kalimat bisa terdiri dari beberapa unsur seperti subjek (S), predikat (P), objek (O), keterangan (Ket), dan pelengkap (Pel). Keberadaan unsur – unsur ini dalam sebuah kalimat inilah yang menyebabkan perbedaan struktur tiap kalimat untuk dapat disebut sebagai kalimat sempurna. Dalam sebuah kalimat harus memiliki sekurang – kurangnya dua unsur, yakni subjek dan predikat. Unsur yang lain seperti objek, keterangan, dan pelengkap dalam suatu kalimat dapat hadir, tidak wajib hadir, atau wajib tidak hadir.
Adapun unsur – unsur kalimat secara rinci, yaitu:
1.         Subjek
Subjek (S) adalah bagian kalimat yang menunjuk pada pelaku, tokoh, sosok, sesuatu hal, atau suatu masalah yang menjadi pokok pembicaraan. Sebagian besar ‘S’ diisi oleh kata benda (frasa nominal), kata kerja (frasa verbal), dan klausa.
Subjek dapat dicari dengan rumus pertanyaan apa ataupun siapa. Contoh :
v  Anna sedang belajar (S yang diisi dengan kata benda).
v  Berolahraga menyehatkan badan (S yang diisi dengan kata kerja).
v  Bunga itu indah (S yang diisi dengan kata benda)
2.         Predikat
Predikat (P) adalah bagian kalimat yang memberi tahu melakukan perbuatan apa pelaku / tokoh atau sosok didalam suatu kalimat. Satuan bentuk pengisian ‘P’ dapat berupa kata atau frasa, namun sebagian besar berkelas verbal atau adjektiva, tetapi dapat juga numeral, nominal atau frasa nominal. Pemakaian kata adalah pada predikat bisa terdapat pada kalimat nominal.
Predikat dapat dicari dengan rumus pertanyaan bagaimana, mengapa, ataupun diapakan. Contoh :
v  Susan sedang makan siang (P yang diisi dengan kata kerja / frasa verbal).
v  Lukisan itu sangat indah (P yang diisi dengan kata sifat / frasa adjektif).
v  Hanum adalah seorang model (P dengan pemakaian kata ‘adalah’ pada frasa nominal).
3.         Objek
Objek (O) merupakan bagian kalimat yang melengkapi predikat (P). objek biasanya diisi oleh nominal, frasa nominal, atau klausa. Letak ‘O’ selalu dibelakang ‘P’ yang berupa verba transitif.
Objek dapat dicari dengan rumus pertanyaan apa atau siapa terhadap tindakan subjek. Contoh :
v  Mereka menanam bunga (O yang diisi dengan kata benda / frasa nominal).
v  Ajeng membeli buku gambar (O yang diisi dengan kata benda / frasa nominal).
v  Dia melukai hati saya (O yang diisi dengan kata benda / frasa nominal).
4.         Pelengkap
Pelengkap (Pel) atau komplemen adalah bagian kalimat yang melengkapi ‘P’. Letak ‘Pel’ umumnya dibelakang ‘P’ yang berupa verbal. Posisi ini juga bisa ditempati oleh ‘O’, dan jenis kata yang mengisi ‘Pel’ dan ‘O’ juga bisa sama, yaitu nominal atau frasa nominal. Akan tetapi, yang membedakan ‘Pel’ dan ‘O’ adalah jenis pengisiannya. ‘Pel’ bisa diisi oleh adjektiva, frasa adjektif, frasa verbal, dan frasa preposisi. Contoh :
v  Aku benci pada kebohongan (Pel yang diisi dengan frasa preposisi).
v  Daun itu berwarna kuning (Pel yang diisi dengan frasa adjektiva).
v  Anak kecil itu mengambilkan ibunya air minum (Pel yang diisi frasa nominal).
v  Andi suka makan bakso (Pel yang diisi frasa verbal).

5.         Keterangan
Keterangan (Ket) adalah bagian kalimat yang menerangkan pelengkap dan klausa dalam sebuah kalimat. Pengisi ‘Ket’ adalah adverbial, frasa nominal, frasa preposisi, atau  klausa. Posisi ‘Ket’ boleh di awal, di tengah, atau di akhir kalimat.
Keterangan terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu keterangan waktu, tempat, cara, alat, alasan/sebab, tujuan, dan penyertaan. Contohnya :
v  Sifa memasak sayur pagi ini (Ket. Waktu).
v  Aulia bermain pasir di pantai (Ket. Tempat).
v  Nenek – nenek itu berjalan bersama dengan hati – hati (Ket. Cara)
v  Ayu memotong tali dengan gunting (Ket. Alat)
v  Karena disiram, pohon itu menjadi tumbuh (Ket. Sebab).
v  Rahmi berolahraga demi kesehatan (Ket. Tujuan)
v  Santi belajar bersama teman sekelasnya (Ket. Penyertaan).

D.          Jenis – Jenis Kalimat

Terdapat beberapa jenis kalimat. Diantaranya berdasarkan pengucapan, struktur gramatikal, dan fungsinya.
1.         Berdasarkan Pengucapan
Berdasarkan pengucapannya, kalimat dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :
a.          Kalimat Langsung
Kalimat langsung adalah kalimat yang secara cermat menirukan ucapan orang. Kalimat langsung juga dapat diartikan kalimat yang memberikan bagaimana ucapan dari orang lain (orang ketiga). Kalimat ini biasanya ditandai dengan tanda petik titik dua (“ … “) dan dapat berupa kalimat tanya atau kalimat perintah. Contohnya :
v  “saya sangat terkejut”, kata ibu karena melihat ular.
v  “Apakah dia melihatku ?”, kata Lala yang sedang bersembunyi.
v  “Ambilkan buku yang jatuh itu !”, kata Boy menyuruhku.
b.         Kalimat Tidak Langsung
Kalimat tidak langsung adalah kalimat yang menceritakan kembali ucapan atau perkataan orang lain. Kalimat tidak langsung tidak ditandai dengan tanda petik dua dan dirubah menjadi kalimat berita. Contohnya :
v  Adik berkata bahwa sepeda itu harus segera di perbaiki.
v  Dosen berkata bahwa ujian dimajukan.
v  Ghea berkata bahwa Mamat menyakiti perasaannya.
2.         Berdasarkan Struktur Gramatikal
Menurut strukturnya, kalimat bahasa Indonesia dapat berupa kalimat tunggal dan kalimat majemuk.
a.          Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal terdiri atas satu subjek (S) dan satu predikat (P). Adapun objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (Ket) sifatnya tidak wajib hadir. Jika ‘P’ masih perlu dilengkapi, barulah unsur yang melengkapi itu dihadirkan.
Berdasarkan jenis kata / frasa pengisi ‘P’, kalimat tunggal dapat dipilah menjadi empat macam seuai jenis kata atau frasanya, yaitu nominal, adjektival, verbal, dan numeral. Contoh :
v  Saya mahasiswi Universitas Pamulang.(Kalimat nominal)
v  Gambar pemandangan itu sangat indah.(Kalimat adjektiva)
v  Nelayan – nelayan sedang melaut. (Kalimat verba)
v  Mobil orang kaya itu ada delapan. (Kalimat numeral)
b.         Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat yang mempunyai dua pola kalimat atau lebih. Kalimat majemuk ini terdiri dari induk kalimat dan anak kalimat.
Setiap kalimat majemuk mempunyai kata penghubung yang berbeda, sehingga jenis kalimat tersebut dapat diketahui dengan cara melihat kata penghubung yang digunakan. Kallimat majemuk memiliki beberapa jenis, diantaranya :
1)         Kalimat Majemuk Setara (Koordinatif)
Jenis
Kata Penghubung
Penggabungan
Dan, serta, baik, maupun
Penguatan / Penegasan
Bahkan
Pemilihan
Atau
Berlawanan
Sedangkan
Urutan waktu
Kemudian, lalu
Kalimat majemuk setara yaitu penggabungan dua kalimat tunggal atau lebih yang kedudukannya sejajar atau sederajat. Berdasarkan kata penghubung (konjungsi), kalimat mejemuk setara terdiri dari beberapa jenis, yaitu penggabungan, penguatan / penegasan, pemilihan, berlawanan, dan urutan waktu. Berikut tabel penghubung klausa dalam kalimat majemuk setara :






Tabel 2.1 Penghubung Klausa Dalam Kalimat Majemuk Setara

Contoh kalimat majemuk setara (Koordinatif) :
v  Rani pergi ke pasar, sedangkan Rudi berangkat ke bengkel.
·         Rani pergi ke pasar. (Kalimat tunggal 1)
·         Rudi berangkat ke bengkel. (Kalimat tunggal 2)
v  Adik terjatuh kemudian dia menangis.
·         Adik terjatuh. (Kalimat tunggal 1)
·         Dia menangis. (Kalimat tunggal 2)
2)         Kalimat Majemuk Rapatan
Kalimat majemuk rapatan yaitu gabungan beberapa kalimat tunggal yang karena subjek, predikat, atau objek yang sama. Bagian yang sama hanya disebutkan sekali.
Contoh kalimat majemuk ratapan :
v  Pekerjaannya hanya makan, tidur, dan merokok.
·         Pekerjaannya hanya makan. (Kalimat tunggal 1)
·         Pekerjaannya hanya tidur. (Kalimat tunggal 2)
·         Pekerjaannya hanya merokok. (Kalimat tunggal 3)
v  Aulia menggambar pegunungan, lautan, dan perkotaan.
·         Aulia menggambar pegunungan. (Kalimat tunggal 1)
·         Aulia menggambar lautan. (Kalimat tunggal 2)
·         Aulia menggambar perkotaan. (Kalimat tunggal 3)

3)         Kalimat Majemuk Bertingkat (Kompleks / Subordinatif)
Kalimat majemuk bertingkat yaitu penggabungan dua kalimat tunggal atau lebih yang kedudukannya berbeda. Di dalalm kalimat majemuk bertingkat terdapat unsur induk kalimat dan anak kalimat. Anak kalimat timbul akibat perluasan pola yang terdapat pada induk kalimat.
Berdaarkan kata penghubung (konjungsi), kalimat majemuk bertingkat terdiri dari beberapa macam, yaitu syarat, waktu, tujuan, perlawanan (konsesif), sebab, akibat, cara, alat, perbandingan, penjelaan, dan kenyataan.
Berikut ini tabel penghubung dalam kalimat majemuk bertingkat :
Jenis
Kata Penghubung
Syarat
Jika, kalau, manakala, andai
Waktu
Sejak, ketika, setelah, sebelum
Tujuan
Agar, supaya, biar
Perlawanan
Walaupun, kendati(pun), biarpun
Sebab
Sebab, karena, oleh karena
Akibat
Maka, sehingga
Cara
Dengan, tanpa
Alat
Perbandingan
Seperti, bagaikan, alih – alih
Penjelasan
Bahwa
Kenyataan
Padahal

Tabel 2.2 Penghubung Klausa Dalam Kalimat Majemuk Bertingkat


Contoh kalimat majemuk bertingkat (kompleks / subordinatif) :
v  Ketika matahari berada di ufuk timur, ayah mencuci motor.
·         Kemarin ayah mencuci motor. (Induk kalimat)
·         Ketika matahari berada di ufuk timur. (Anak kalimat, sebagai pengganti keterangan waktu)
v  Hujan turun berhari – hari sehingga banjir besar melanda kota.
·         Hujan turun berhari – hari. (Induk kalimat)
·         Banjir besar melanda kota. (Anak kalimat)
4)         Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat majemuk campuran yaitu gabungan antara kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat. Sekurang – kurangnya terdiri dari tiga kalimat.
Contoh kalimat majemuk campuran :
v  Toni bermain dengan Kevin dan Rina membaca buku di kamar, ketika aku datang kerumahnya kemarin.
·         Toni bermain dengan Kevin. (Kalimat tunggal 1)
·         Rina membaca buku di kamar kemarin. (Kalimat tunggal 2, induk kalimat)
·         Ketika aku datang ke rumahnya. (Anak kalimat sebagai pengganti keterangan waktu)


v  Aku pulang dengan Sinta dan Ririn menangis, karena tugasnya belum selesai semalam.
·         Aku pulang dengan Sinta. (Kalimat tunggal 1)
·         Ririn menangis semalam. (Kalimat tunggal 2, induk kalimat)
·         Karena tugasnya belum selesai. (Anak kalimat, pengganti keteragan waktu)
3.         Berdasarkan Fungsinya
Sesuai Tata Bahasa Buku Bahasa Indonesia (2003 : 337) disebutkan berdasarkan bentuk atau kategori sintaksisnya atau fungsinya, kalimat dibedakan atas empat macam, yaitu kalimat berita (deklaratif), kalimat tanya (introgatif), kalimat perintah (imperlatif), dan kalimat seru (eksmalatif).
a.          Kalimat Berita (Deklaratif)
Kalimat berita adalah kalimat yang dipakai untuk menyatakan suatu berita. Ciri –ciri kalimat berita yaitu bersifat bebas, boleh langsung atau tidak langsung, aktif atau pasif, tunggal atau majemuk, berintonasi  menurun dan kalimatnya diakhiri tanda titik (.).
Contoh kalimat berita (deklaratif) :
v  Pembagian beras gratis di kampungku dilakukan kemarin pagi.
v  Perayaan HUT RI 72 berlangsung meriah.
b.         Kalimat Tanya (Introgatif)
Kalimat tanya adalah kalimat yang dipakai untuk memperoleh informasi. Ciri – ciri kalimat tanya yaitu diakhiri dengan tanda tanya (?), berintonasi naik dan sering pula hadir kata apa(kah), bagaimana, dimana, siapa, yang mana, dan lain – lain.

Contoh kalimat tanya (introgatif) :
v  Apakah buku ini milikmu ?
v  Siapa yang tadi bersama Andi ?
c.          Kalimat Perintah (Imperatif)
Kalimat perintah dipakai untuk menyuruh dan melarang orang berbuat sesuatu. Kalimat perintah berintonasi menurun dan diakhiri tanda titik (.) atau seru (!). Kalimat perintah dibagi lagi menjadi :
1)         Kalimat Perintah Suruhan
Contoh :
v  Buka pintu itu !
v  Dorong orang itu !
2)         Kalimat Perintah Halus
Contoh :
v  Tolong bawa motor ini ke bengkel !
v  Tolong ambilkan bungkusan itu !
3)         Kalimat Perintah Permohonan
Contoh :
v  Mohon hadiah ini kamu terima.
v  Mohon temui aku besok.
4)         Kalimat Perintah Ajakan dan Harapan
Contoh :
v  Ayo ikuti perlombaan ini !
v  Marilah budayakan hidup bersih dan sehat !

5)         Kalimat Perintah Larangan
Contoh :
v  Jangan berbohong kepadaku !
v  Jangan membencinya !
6)         Kalimat Perintah Sindiran
Contoh :
v  Kotor sekali ruangan ini.
v  Andaikan ada yang menggambilkanku minuman.
d.         Kalimat Seru (Ekslamatif)
Kalimat seru adalah kalimat yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan emosi yang kuat, termasuk kejadian yang tiba – tiba dan memerlukan reaksi spontan. Kalimat ini berintonasi naik dan di akhiri tanda seru (!).
Contoh kalimat seru (ekslamatif) :
v  Gadis itu cantik sekali !
v  Menyebalkan sekali orang itu !
4.         Berdasarkan Sifat Hubungan Aktor – Aksi
Dipandang dari segi hubungan aktor – aksi, maka kalimat ini terbagi menjadi :
a.          Kalimat Aktif
Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya sebagai pelaku atau aktor (Cook, 1971 : 49). Kalimat aktif umumnya berawalan me- dan ber- pada predikatnya.
Contoh kalimat aktif :
v  Mada mengerjakan tugas.
v  Mereka sedang bermain
b.         Kalimat Pasif
Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya berperan sebagai penderita atau dikenai pekerjaan / tindakan. Kalimat pasif pada umumnya berawalan di-, ter-, ke-an.
Contoh kalimat pasif :
v  Buku dibawa Gilang.
v  Kamu dibicarakan olehnya.
c.          Kalimat Medial
Kalimat medial adalah kalimat yang subjeknya berperan baik sebagai pelaku dan atau sebagai penderita (objek).
Contoh kalimat medial :
v  Dia menyakiti dirinya.
v  Soraya menceburkan dirinya ke laut.
d.         Kalimat Reiprokal
Kalimat reiprokal adalah kalimat yang subjek dan objeknya melakukan sesuatu perbuatan yang berbalas – balasan.
Contoh kalomat reiprokal :
v  Dina suka lihat – lihatan dengan Doni.
v  Joy sering berbalas – balasan pantun dengan Jay.

E.           Kesalahan Dalam Kalimat

Dalam penulisan suatu kalimat sering terjadi kesalahan – kesalahan yang tidak di ketahui oleh sebagian orang. Beberapa kesalahan yang terjadi dalam kalimat, diantaranya :
1.         Kalimat Kontaminasi
Kalimat kontaminasi atau kalimat rancu adalah kalimat yang kacau susunannya, namun kekacauan susunan kata dalam kalimat itu sifatnya khas. Dikatakan khas karena adanya pembentukan satu kalimat yang kurang tepat dari dua kalimat yang benar sehingga gagasan kalimatnya menjadi kabur atau tidak jelas.
Contoh kalimat kontaminasi :
v  Dalam perutnya mengandung racun. (Salah)
·         Dalam perutnya terkandung racun. (Benar)
·         Perutnya mengandung racun. (Benar)
2.         Ketidak Jelasan Unsur ‘S’ dan ‘P’
Pada sebagian kalimat yang tidak jelas unsur subjek dan tidak memiliki unsur predikat akan membuat ketidak efektifan dan hanya memiliki unsur lain seperti O, Ket, dan Pel.
Contoh ketidak jelasan unsur ‘S’ dan ‘P’ :
v  Di antara beberapa mahasiswa kesulitan dalam membuat skripsi. (Tidak jelas unsur ‘S’)
·         Mahasiswa kesulitan dalam membuat skripsi. (Jelas unsur ‘S’).
v  Ayah ke kantor jam tujuh pagi. (Tidak ada unsur ‘P’)
·         Ayah pergi ke kantor jam tujuh pagi. (Ada unsur ‘P’)

3.         Gejala Pleonasme
Yang dimaksud dengan gejala pleonasme adalah penggunaan unsur kata atau bahasa yang berlebihan.
Contoh gejala pleonasme :
v  Para tamu – tamu mulai datang ke pesta itu. (Salah)
·         Para tamu mulai datang ke pesta itu. (Benar)
·         Tamu – tamu mulai datang ke pesta itu. (Benar)
v  Sejak dari kampus sampai rumah, Putri diikuti terus oleh orang asing. (Salah)
·         Sejak kampus sampai rumah, Putri diikuti terus oleh orang asing. (Benar)
·         Dari kampus sampai rumah, Putri diikuti terus oleh orang asing. (Benar)
4.         Penggunaan Kata Yang Salah
Sering kali terjadi penggunaan kata yang salah, sehingga berdampak pada kalimat itu. Beberapa penggunaan kata yang salah dalam kalimat, diantaranya :
a.          Penggunaan Kata “Kalau” yang Salah
Contoh penggunaan kata “kalau” yang salah :
v  Kalau engkau menjadi burung, biarlah aku menjadi dahan tempatmu bertengger. (Salah)
·         Kalimat 2 klausa bersyarat itu berisi sesuatu yang mustahil. Mana mungkin orang akan menjelma menjadi burung. Karena isinya mengandung ketidak mungkinan makna, maka kata kalau dapat diganti dengan kata lain, misalnya : andai kata, umpamanya, dan sekiranya.
·         Andai kata engkau menjadi burung, biarlah aku menjadi dahan tempatmu bertengger. (Benar)
b.         Penggunaan Kata “Di” yang Salah
Contoh penggunaan kata “di” yang salah :
v  Pakaian itu disimpannya di dalam lemari. (Salah)
·         Pakaian itu disimpannya dalam lemari. (Benar, karena kata depan “di” dihilangkan)
v  Perkra itu di atas tanggungan saya. (Salah)
·         Perkara itu atas tanggungan saya. (Benar, karena kata depan “di” dihilangkan)
c.          Penggunaan Kata “Daripada” yang Salah
Contoh penggunaan kata “daripada” yang salah :
v  Pembicaraan daripada Viki sulit dimengerti. (Salah)
·         Pembicaraan Viki sulit dimengerti. (Benar)
v  Pukulan smash daripada Butet menghujam tajam. (Salah)
·         Pukulan smash Butet menghujam tajam. (Benar)
d.         Pengulangan Kata
Contoh pengulangan kata yang salah dalam kalimat :
v  Setahunnya hanya menghasilkan sekitar 200 film setahun. (Salah)
·         Setahun hanya menghasilkan 200 film. (Benar)
v  Aku berandai – andai, seandainya aku berpacaran dengan Justin Bieber. (Salah)
·         Aku berandai - andai aku berpacaran dengan Justin Bieber. (Benar)


BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

A.          Kesimpulan

Kalimat yaitu rangkaian kata yang dapat mengungkapkan gagasan, pikiran, atau perasaan. Kalimat merupakan satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan pikiran yang utuh, baik dengan cara lisan maupun tulisan.
Struktur Kalimat yaitu kalimat yang tersusun dari unsur – unsur kalimat yang sifatnya relatif tetap, unsur – unsur tersebut subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan.
Suatu kalimat bisa terdiri dari beberapa unsur seperti subjek (S), predikat (P), objek (O), keterangan (Ket), dan pelengkap (Pel). Keberadaan unsur – unsur ini dalam sebuah kalimat inilah yang menyebabkan perbedaan struktur tiap kalimat untuk dapat disebut sebagai kalimat sempurna. Dalam sebuah kalimat harus memiliki sekurang – kurangnya dua unsur, yakni subjek dan predikat. Unsur yang lain seperti objek, keterangan, dan pelengkap dalam suatu kalimat dapat hadir, tidak wajib hadir, atau wajib tidak hadir.
Terdapat beberapa jenis kalimat. Diantaranya berdasarkan pengucapan, struktur gramatikal, fungsinya, dan sifat hubungan aktor – aksi. Berdasarkan pengucapannya kalimat dibedakan menjadi kalimat langsung dan kalimat tidak langsung. Kemudian berdasarkan struktur gramatikalnya terdapat kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Sedangkan berdasarkan bentuk atau kategori sintaksisnya atau fungsinya, kalimat dibedakan atas empat macam, yaitu kalimat berita (deklaratif), kalimat tanya (introgatif), kalimat perintah (imperlatif), dan kalimat seru (eksmalatif). Serta berdasarkan sifat hubungan aktor – aksi, kalimat ini terbagi menjadi kalimat aktif, kalimat pasif, kalimat medial, dan kalimat reiprokal.
Dalam sebuah kalimat kita akan menemui beberapa keasalan atau ketidak efektifan. Beberapa kesalahan yang terjadi dalam kalimat diantaranya kalimat kontaminasi, ketidak jelasan unsur ‘S’ dan ‘P’ dalam kalimat, gejala pleonasme, dan penggunaan kata yang salah dalam kalimat.

B.                 Saran

Setelah menyusun makalah ini kami mengharapkan bahwa akan semakin banyak rekan – rekan yang dapat meningkatkan, menggali dan mengkaji lebih dalam tentang struktur kalimat, unsur kalimat, jenis kalimat dan fungsi kalimat. Supaya tidak adanya lagi kesalahan atau ketidak efektifan pada kalimat yang rekan – rekan buat.


DAFTAR PUSTAKA


Hs, Widjono. 2007. Bahasa Indonesia: Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Cet. 2. Jakarta: PT Grasindo.
Alwi, Hasan, Soenjono Dardjowidjojo, Hans Lapoliwa, dan Anton M. Moeliono. 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Amando, M. 1962. Uraian Kalimat Dan Kata – Kata. Jakarta: Pustaka Rakyat
Wojowasito, S. 1976. Pengantar Sintaksis Indonesia: Dasar-dasar Ilmu Kalimat bahasa Indonesia. Bandung: Sintha Dharma.
Harimurti Kridalaksana. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Lamuddin Finoza. 2008. Komposisi Bahasa Untuk Mahasiswa Jurusan Non Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
http://marlinara.blogspot.co.id/2014/04/makalah-bahasa-indonesia-tentang-kalimat.html
https://www.academia.edu/17371867/Struktur-Kalimat

Post a Comment for "Makalah Struktur Kalimat - Bahasa Indonesia - maswijaba"