Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Makalah Ejaan Yang Disempurnakan - Bahasa Indonesia - maswijaba


maswijaba.my.id



BAB I

PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

Bahasa Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat sebagai dampak kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Penggunaannya pun semakin luas dalam beragam ranah pemakaian, baik secara lisan maupun tulis.
Kondisi kebahasaan di Indonesia yang diwarnai oleh bahasa standar dan nonstandar, ratusan bahasa daerah dan ditambah beberapa bahasa asing, membutuhkan penanganan yang tepat dalam perencanaan bahasa. Agar lebih jelas, latar belakang dan masalah akan diuraikan secara terpisah seperti tampak pada paparan berikut.
Masyarakat Indonesia yang heterogen menyebabkan munculnya sikap yang beragam terhadap penggunaan bahasa yang ada di Indonesia, yaitu
(1) sangat bangga terhadap bahasa asing,
(2) sangat bangga terhadap bahasa daerah,
(3) sangat bangga terhadap bahasa Indonesia.
Ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran, dan bagaimana menghubungkan serta memisahkan lambang-lambang. Secara teknis, ejaan adalah aturan penulisan huruf, penulisan kata, penulisan unsur serapan, dan penulisan tanda baca.
Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) adalah ejaan Bahasa Indonesia, ejaan Republik atau ejaan Soewandi, yang berlaku sejak tahun 1927. Tepatnya pada 16 agustus 1972, telah ditetapkan dan diberlakukan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) yang diatur dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah.

B.      Rumusan Masalah

1.      Bagaimana pemakaian huruf –huruf ?
2.      Bagaimana cara penulisan yang benar sesuai Ejaan Yang Disempurnakan ?
3.      Bagaimana penggunaan tanda baca ?

C.      Tujuan

1.      Dapat memahami penggunaan huruf-huruf.
2.      Dapat memahami penulisan Ejaan Yang Disempurnakan
3.      Dapat mengetahui penggunaan tanda baca yang benar.

D.     Manfaat

1.      Manfaat Teoritis
a.      Menambah pengetahuan tengtang Ejaan Yang di Sempurnakan.
b.      Dapat dijadikan media pembelajaran dalam pembuatan karya tuluis.
c.       Dapat dijadikan media informasi mengenai pembuatan karya tuluis.
2.      Manfaat Praktis
·         Manfaat Bagi Penulis :
a.      Sebagai persyaratan memenuhi tugas Bahasa Indonesia.
b.      Menambah pengetahuan tentang Ejaan Yang di Sempurnakan.
c.       Meningkatkan pemahaman dalam membuat karya tulis.
·         Manfaat Bagi Pembaca :
a.      Menambah pengetahuan tentang Ejaan Yang di Sempurnakan.
b.      Meningkatkan pemahaman dalam pembuatan karya tulis.
·         Manfaat Bagi Lembaga Lain :
a.      Sebagai media pembelajaran
b.      Menambah pengetahuan tentang Ejaan Yang di Sempurnakan
·         Manfaat Bagi Peneliti Lain :
a.      Menambah pengetahuan tentang Ejaan Yang di Sempurnakan
b.      Menjadi tolak ukur dalam pembuatan karya tulis selanjutnya



BAB II

PEMBAHASAN


A.     Kajian Teori
Sedangkan Ejaan Yang Disempurnakan adalah ejaan bahasa Indonesia yang berlaku dari tahun 1972 sampai 2015. Ejaan Yang Disempurnakan / EYD ini menggantikan Ejaan Soewandi atau Ejaan Republik. Selanjutnya Ejaan Yang Disempurnakan digantikan oleh Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) sejak tahun 2015.
Sebelum Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), Lembaga Bahasa dan Kesusastraan, (sekarang Pusat Bahasa), pada tahun 1967 mengeluarkan Ejaan Baru (Ejaan LBK). Ejaan Baru pada dasarnya merupakan lanjutan dari usaha yang telah dirintis oleh panitia Ejaan Malindo. Para pelaksananya pun di samping terdiri dari panitia Ejaan LBK, juga dari panitia ejaan dari Malaysia. Panitia itu berhasil merumuskan suatu konsep ejaan yang kemudian diberi nama Ejaan Baru. Panitia itu bekerja atas dasar surat keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan No.062/67, tanggal 19 September 1967.
Pada 23 Mei 1972, sebuah pernyataan bersama ditandatangani oleh Menteri Pelajaran MalaysiaTun Hussein Onn dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan IndonesiaMashuri. Pernyataan bersama tersebut mengandung persetujuan untuk melaksanakan asas yang telah disepakati oleh para ahli dari kedua negara tentang Ejaan Baru dan Ejaan Yang Disempurnakan. Pada tanggal 16 Agustus 1972, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1972, berlakulah sistem ejaan Latin bagi bahasa Melayu (“Rumi” dalam istilah bahasa Melayu Malaysia) dan bahasa Indonesia.
Di Malaysia, ejaan baru bersama ini dirujuk sebagai Ejaan Rumi Bersama (ERB). Pada waktu pidato kenegaraan untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdakan Republik Indonesia yang ke XXVII, tanggal 17 Agustus 1972 diresmikanlah pemakaikan ejaan baru untuk bahasa Indonesia oleh Presiden Republik Indonesia. Dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972, ejaan tersebut dikenal dengan nama Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD). Ejaan tersebut merupakan hasil yang dicapai oleh kerja panitia ejaan bahasa Indonesia yang telah dibentuk pada tahun 1966.
Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan ini merupakan penyederhanaan serta penyempurnaan dari pada Ejaan Suwandi atau ejaan Republik yang dipakai sejak dipakai sejak bulan Maret 1947. Selanjutnya pada tanggal 12 Oktober 1972, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan buku “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan” dengan penjelasan kaidah penggunaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 27 Agustus 1975 Nomor 0196/U/1975 memberlakukan “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan” dan “Pedoman Umum Pembentukan Istilah”.
1.      Revisi 1987
Pada tahun 1987, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0543/U/1987 tentang Penyempurnaan “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan”. Keputusan menteri ini menyempurnakan EYD edisi 1975.
2.      Revisi 2009
Pada tahun 2009, Menteri Pendidikan Nasional mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Dengan dikeluarkannya peraturan menteri ini, maka EYD edisi 1987 diganti dan dinyatakan tidak berlaku lagi.



B.      Pembahasan

1.      PEMAKAIAN HURUF-HURUF
a.      Huruf Abjad

Huruf
Nama
Pengucapan
Kapital
Nonkapital
A
a
a
A
B
b
be
C
c
ce
D
d
de
E
e
e
É
F
f
ef
Éf
G
g
ge
H
h
ha
Ha
I
i
i
I
J
j
je
K
k
ka
Ka
L
l
el
Él
M
m
em
Ém
N
n
en
Én
O
o
o
O
P
p
pe
Q
q
ki
Ki
R
r
er
Ér
S
s
es
És
T
t
te
U
u
u
U
V
v
ve
W
w
we
X
x
eks
Éks
Y
y
ye
Z
z
zet
zét

Tabel.2.1 Huruf Abjad



b.      Huruf Vokal
Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas lima huruf, yaitu a, e, i, o, dan u.
Huruf Vokal
Misalnya Pemakaian dalam Kata
Posisi Awal
Posisi Tengah
Posisi Akhir
a
api
padi
lusa
e
enak
petak
sore
i
itu
simpan
padi
o
oleh
kota
radio
u
ulang
bumi
ibu

Tabel 2.2 Huruf Vokal
c.       Huruf Diftong
Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat diftong yang di- lambangkan dengan gabungan huruf vokal ai, au, ei, dan oi.
Huruf Diftong
Misalnya Pemkaian dalam Kata
Posisi Awal
Posisi Tengah
Posisi Akhir
Ai
aileron
balairung
pandai
Au
autodidak
taufik
harimau
Ei
eigendom
geiser
survei
Oi
-
boikot
amboi

Tabel 2.3 Huruf Diftong
d.      Huruf Konsonan
Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas 21 huruf, yaitu b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.
Huruf Konsonan
Misalnya Pemakaian dalam Kata
Posisi Awal
Posisi Tengah
Posisi Akhir
B
bahasa
sebut
adab
C
cakap
kaca
-
D
dua
ada
abad
F
fakir
kafan
maaf
G
guna
tiga
gudeg
H
Hari
saham
tuah
J
jalan
manja
mikraj
K
kami
paksa
politik
L
lekas
alas
akal
M
maka
kami
diam
N
nama
tanah
daun
P
pasang
apa
siap
Q
qariah
iqra
-
R
raih
bara
putar
S
sampai
asli
tangkas
T
tali
mata
rapat
V
variasi
lava
molotov
W
wanita
hawa
takraw
X
xenon
-
-
Y
yakin
payung
-
Z
zaeni
lazim
juz
Tabel 2.4 Huruf Konsonan
e.      Gabungan Huruf Konsonan
Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan konsonan yaitu :
kh, ng, ny, dan sy
Gabungan Huruf Konsonan
Misalnya Pemkaian dalam Kata
Posisi Awal
Posisi Tengah
Posisi Akhir
Kh
khusus
akhir
tarikh
Ng
ngarai
bangun
senang
Ny
nyata
banyak
-
Sy
syarat
musyawarah
arasy

Tabel 2.5 Gabungan Huruf Konsonan
2.      PEMAKAIAN HURUF KAPITAL DAN HURUF MIRING
Pemakaian huruf yang lazim dalam bahasa Indonesia adalah huruf kapital atau huruf besar dan huruf miring, sedangka huruf tebal tidak pernah diatur dalam pedoman EYD.
a.      Huruf Kapital Atau Huruf Besar
Uraian secara rinci tentang penulisan huruf kapital akan dijelaskan sebagai berikut :
1)      Dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
Misalnya :
·         Pada suatu hari.
·         Dia sedang membaca buku.
2)      Dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Misalnya :
·         Adik bertanya,”kapan kita pulang?”
·         “Nanti sore,”kata ayah,”Kita akan berangkat,”
3)      Dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan, nama Nabi/Rasul, dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya :
·         Allah
·         Yang Maha Esa.
4)      Dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan yang diikuti nama orang.
Misalnya :
·         Cut Nyak Dien
·         Ir. Soekarno.
5)      Dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat. Misalnya :
·         Gubernur DKI Jakarta.
·         Sultan Hasanuddin.
6)      Dipakai sebagai huruf pertama unsur nama orang.
Misalnya :
·         Mohammad Hatta.
7)      Dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
Misalnya :
·         Bangsa Indonesia.
·         Suku Asmat.
8)      Dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Misalnya :
·         Hari Raya Idul Fitri.
·         Hari Minggu.
9)      Dipakai sebagai huruf pertama nama geografi
Misalnya :
·         Nusa Tenggara Barat.
·         Jakarta.
10)  Dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama Negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan.
Misalnya : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
11)  Dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.
Misalnya : Undang-undang Dasar Republik Indonesia.
12)  Dipakai sebagai huruf pertama semua kata termasuk semua unsur kata ulang sempurna di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan udul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya :
Dia membaca buku berjudul “Pendidikan dan Kebudayaan”.
13)  Dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.
Misalnya :
·         Dr.       Doktor
·         K.H.      Kiai Haji
14)  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata petunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.
Misalnya :
·         “Silahkan masuk, Pak!” kata Budi.
·         “Bagimana kabarmu, Wan ?” tanya Bima.
15)  Dipakai sebagai huruf pertama kata ganti.
Misalnya :
·         Sudahkah Anda mengerti ?
·         Siapa nama Anda ?

b.      Huruf Miring
1)      Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Misalnya :
·         Pusat Bahasa. 2011. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Edisi Keempat (Cetakan Kedua).  Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
2)      Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.
Misalnya :
·         Buatlah kalimat dengan menggunakan kata kerja.
3)      Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.
Misalnya :
·         Nama ilmiah buah manggis ialah Garcinia mangostana.
3.      PENULISAN KATA
Kata Dasar adalah kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Kata Turunan Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
a.     Kata Dasar
Kata dasar adalah kata yang belum mengalami perubahan bentuk, yang ditulis sebagai suatu kesatuan.
Misalnya :
·        Buku itu sangat tebal.
·        Kantor pajak penuh sesak.

b.      Kata Turunan
Kata Turunan (kata berimbuhan) kaidah yang harus diikuti dalam penulisan kata turunan, yaitu imbuhan semuanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Misalnya :
·         Berjalan
·         Lukisan

c.       Kata Ulang
Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda penghubung.
Misalnya :
·         Anak-anak
·         Buku-buku

d.      Gabungan Kata
1)      Gabungan kata lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah. Misalnya :
·         Kereta listrik
·         Rumah sakit.
2)      Gabungan kata termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan salah pengertian dapat ditulis dengan tanda penghubung untuk menegaskan pertalian unsur yang berkaitan.
Misalnya :
·         Alat pandang-dengar (audio-visual )
·         Anak-istri saya (keluarga).
3)      Gabungan kata berikut ditulis serangkai karena hubungannya sudah sangat padu sehingga tidak dirasakan lagi sebagai dua kata. Misalnya
·         Belasungkawa.
·         Kacamata.
4)      Gabungan kata yang mendapat awalan dan akhiran sekaligus ditulis serangkai.
Misalnya :
·         Dilipatgandakan
·         Menggarisbawahi

e.      Pemenggalan Kata
1)      Jika di tengah kata terdapat huruf vokal yang berurutan, pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.
Misalnya :
·         bu-ah
·         ma-in
2)      Huruf diftong ai, au, ei, dan oi tidak dipenggal.
Misalnya :
·         pan-dai
·         sau-da-ra
3)      Jika di tengah kata dasar terdapat huruf konsonan (termasuk gabungan huruf konsonan) di antara dua huruf vokal, pemenggalannya dilakukan sebelum huruf konsonan itu. Misalnya :
·         ba-pak
·         ke-nyang
4)      Jika di tengah kata dasar terdapat dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu. Misalnya :
·         makh-luk
·         man-di
5)      Jika di tengah kata dasar terdapat tiga huruf konsonan atau lebih yang masing-masing melambangkan satu bunyi, pemenggalan di lakukan antara huruf konsonan yang pertama atau kedua. Misalnya :
·         ben-trok
·         in-stru-men

f.        Kata Depan
Kata depan, seperti di, ke, dan dari, ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Misalnya :
·         Di mana dia sekarang ?
·         Ia berasal dari Pulau Penyengat.

g.      Partikel
1)      Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Misalnya :
·         Bacalah buku itu baik-baik!
·         Apakah gunanya bersedih hati?
2)      Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. Misalnya :
·         Apa pun permasalahan yang muncul, dia dapat mengatasinya dengan bijaksana.
·         Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah berkunjung ke rumahku.
3)      Partikel per yang berarti ‘demi’, ‘tiap’, atau ‘mulai’ ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Misalnya :
·         Harga kain itu Rp50.000,00 per meter.
·         Karyawan itu mendapat kenaikan gaji per 1 Januari.
h.      Singkatan dan Akronim
1)      Singkatan nama orang, gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik pada setiap unsur singkatan itu. Misalnya :
·         A.H. Nasution              Abdul Haris Nasution
·         H. Hamid                     Haji Hamid
2)      Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata nama lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, lembaga pendidikan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik. Misalnya :
·         NKRI                Negara Kesatuan Republik Indonesia
·         UI                     Universitas Indonesia
·         PBB                  Perserikatan Bangsa-Bangsa
3)      Singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti dengan tanda titik.
Misalnya :
·         dll.                   dan lain-lain
·         dsb.                  dan sebagainya
4)      Singkatan yang terdiri atas dua huruf yang lazim dipakai dalam surat-menyurat masing-masing diikuti oleh tanda titik. Misalnya :
·         a.n.                 atas nama
·         s.d.                  sampai dengan
5)      Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
Misalnya :
·         Kg                    kilogram
·         Rp                    rupiah
6)      Akronim nama diri yang terdiri atas huruf awal setiap kata ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.
Misalnya :
·         BIN                  Badan Intelijen Negara
·         LIPI                  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
7)      Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf  awal  kapital.
Misalnya :
·         Bappenas        Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
·         Suramadu        Surabaya-Madura
8)      Akronim bukan nama diri yang berupa gabungan huruf awal dan suku kata atau gabungan suku kata ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya :
·         Iptek                ilmu pengetahuan dan teknologi
·         pemilu             pemilihan umum

i.        Angka dan Bilangan
Angka Arab atau angka Romawi lazim dipakai sebagai lambang bilangan atau nomor.
Misalnya :
·         Angka Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
·         Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M (1.000),  M (1.000.000)

j.        Kata Ganti ku-, -ku, -mu, dan –nya
Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, sedangkan -ku, -mu, dan -nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya :
·         Majalah ini boleh kaubaca.
·         Rumahnya sedang diperbaiki.

k.       Kata Sandang si dan sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Misalnya :
·         Surat itu dikembalikan kepada si pengirim.
·         Ibu itu menghadiahi sang suami kemeja batik.
4.      PEMAKAIAN TANDA BACA
a.      Tanda Titik (.)
1)      Tanda titik dipakai pada akhir kalimat pernyataan. Misalnya :
·         Mereka duduk di sana.
·         Dia akan datang pada pertemuan itu.
2)      Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar. Misalnya :
a. I. Kondisi Kebahasaan di Indonesia
A. Bahasa Indonesia
3)      Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu atau jangka waktu. Misalnya :
·         pukul 01.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)
·         01.35.20 jam  (1 jam, 35 menit, 20 detik)
4)      Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, tahun, judul, dan tempat terbit. Misalnya :
Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. 2008.
Peta Bahasa di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jakarta.
5)      Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang menunjukkan jumlah.Misalnya :
·         Indonesia memiliki lebih dari 13.000 pulau.
·         Penduduk kota itu lebih dari 7.000.000 orang.

b.      Tanda Koma (,)
1)      Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan. Misalnya :
·         Satu, dua, ... tiga!
·         Buku, majalah, dan jurnal termasuk sumber kepustakaan.
2)      Tanda koma dipakai sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan, dan sedangkan, dalam kalimat majemuk. Misalnya :
·         Saya ingin membeli kamera, tetapi uang saya belum  cukup.
·         Ini bukan milik saya, melainkan milik ayah saya.
3)      Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimatnya. Misalnya :
·         Kalau diundang, saya akan datang.
·         Karena baik hati, dia mempunyai banyak teman.
4)      Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun demikian. Misalnya :
·         Anak itu memang rajin membaca sejak kecil. Jadi, wajar kalau dia menjadi bintang pelajar.
·         Orang tuanya kurang mampu. Meskipun demikian, anak-anaknya berhasil menjadi sarjana.
5)      Tanda koma dipakai sebelum dan/atau sesudah kata seru, seperti o, ya, wah, aduh, atau hai, dan kata yang dipakai sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau Nak.Misalnya :
·         O, begitu?
·         Wah, bukan main!
·         Dia baik sekali, Bu.
6)      Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.Misalnya :
·         Kata nenek saya, “Kita harus berbagi dalam hidup ini.”
·         “Kita harus berbagi dalam hidup ini,” kata nenek saya, “karena manusia adalah makhluk sosial.”

c.       Tanda Titik Koma (;)
1)      Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata peng- hubung untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang lain di dalam kalimat majemuk.
Misalnya :
·         Hari sudah malam; anak-anak masih membaca buku.
·         Ayah menyelesaikan pekerjaan; Ibu menulis makalah;
2)      Tanda titik koma dipakai pada akhir perincian yang berupa klausa. Misalnya :
·         Syarat penerimaan pegawai di lembaga ini adalah
(1) berkewarganegaraan Indonesia;
(2) berijazah sarjana S-1;
(3) berbadan sehat; dan
(4) bersedia ditempatkan di seluruh wilayah NKRI.
3)      Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan bagian-bagian pemerincian dalam kalimat yang sudah menggunakan tanda koma. Misalnya :
·         Ibu membeli buku, pensil, dan tinta; baju, celana, dan kaus; pisang, apel, dan jeruk.
·         Agenda rapat ini meliputi :
a. pemilihan ketua, sekretaris, dan bendahara;
b. penyusunan ADART, dan program kerja; dan
c. pendataan anggota, dokumentasi, dan aset organi- sasi.

d.      Tanda Titik Dua (:)
1)      Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti pemerincian atau penjelasan.
Misalnya :
Mereka memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
2)      Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian. Misalnya :
Ketua               :           Ahmad Wijaya
Sekretaris        :           Siti Aryani
Bendahara      :           Aulia Arimbi
3)      Tanda titik dua dipakai dalam naskah drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Misalnya :
Ibu : “Bawa koper ini, Nak!”
Amir : “Baik, Bu.” Ibu : “Jangan lupa, letakkan baik-baik!”
e.      Tanda Hubung (-)
1)      Tanda hubung dipakai untuk menandai bagian kata yang terpenggal oleh pergantian baris. Misalnya :
Di samping cara lama, diterapkan juga ca-
ra baru ….
2)      Tanda hubung dipakai untuk menyambung unsur kata ulang.
Misalnya :
·         anak-anak.
·         Kemerah-merahan
3)      Tanda hubung dipakai untuk menyambung tanggal, bulan, dan tahun yang dinyatakan dengan angka atau menyambung huruf dalam kata yang dieja satu-satu.
Misalnya : 11-11-2013
4)      Tanda hubung dipakai untuk merangkai.
Misalnya :
·         ke- dengan angka (peringkat ke-2);
·         c. angka dengan –an (tahun 1950-an);

f.        Tanda Pisah (--)
1)      Tanda pisah dapat dipakai untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat.
Misalnya :
Kemerdekaan bangsa itu—saya yakin akan tercapai— diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
2)      Tanda pisah dapat dipakai juga untuk menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain. Misalnya :
Soekarno-Hatta—Proklamator Kemerdekaan RI—diabadikan menjadi nama bandar udara internasional.
3)      Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan, tanggal, atau tempat yang berarti ‘sampai dengan’ atau ‘sampai ke’.
Misalnya : Tahun 2010 — 2013
g.      Tanda Tanya (?)
1)      Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.
Misalnya :
·         Kapan Hari Pendidikan Nasional diperingati ?
·         Siapa pencipta lagu “Indonesia Raya”?
2)      Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya. Misalnya :
·         Monumen Nasional mulai dibangun pada tahun 1961 (?).
·         Di Indonesia terdapat 740 (?) bahasa daerah.

h.      Tanda Seru (!)
Tanda seru dipakai untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau emosi yang kuat.
Misalnya :
·         Mari kita dukung Gerakan Cinta Bahasa Indonesia!
·          Masa! Dia bersikap seperti itu?

i.        Tanda Elipsis (...)
1)      Tanda elipsis dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau kutipan ada bagian yang dihilangkan.
Misalnya :
·         Penyebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut.
·         Dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa bahasa negara ialah ….
2)      Tanda elipsis dipakai untuk menulis ujaran yang tidak selesai dalam dialog.
Misalnya :
·         “Menurut saya … seperti … bagaimana, Bu?”
·         “Jadi, simpulannya … oh, sudah saatnya istirahat.”
j.        Tanda Petik (“...”)
1)      Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain.
Misalnya :
·         “Merdeka atau mati!” seru Bung Tomo dalam pidatonya.
·         “Kerjakan tugas ini sekarang!” perintah atasannya. “Besok akan dibahas dalam rapat.”
2)      Tanda petik dipakai untuk mengapit judul sajak, lagu, film, sinetron, artikel, naskah, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
Misalnya :
·         Sajak “Pahlawanku” terdapat pada halaman 125 buku itu.
·         Marilah kita menyanyikan lagu “Maju Tak Gentar”!
3)      Tanda petik dipakai untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
Misalnya :
·         “Tetikus” komputer ini sudah tidak berfungsi.
·         Dilarang memberikan “amplop” kepada petugas!

k.       Tanda Petik Tunggal (‘...’)
1)      Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit petikan yang terdapat dalam petikan lain.
Misalnya :
·         Tanya dia, “Kaudengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”
·          “Kita bangga karena lagu ‘Indonesia Raya’ berkumandang di arena olimpiade itu,” kata Ketua KONI.
2)      Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan.
Misalnya :
·         Tergugat         ‘yang digugat’
·         Retina              ‘dinding mata sebelah dalam’

l.        Tanda Kurung ((...))
1)      Tanda kurung dipakai untuk mengapit tambahan keterang- an atau penjelasan.
Misalnya :
·         Dia memperpanjang surat izin mengemudi (SIM).
·         Lokakarya (workshop) itu diadakan di Manado.
·         Warga baru itu belum memiliki KTP (kartu tanda penduduk).
2)      Tanda kurung dipakai untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian utama kalimat.
Misalnya :
·         Sajak Tranggono yang berjudul “Ubud” (nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.
·         Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru pasar dalam negeri.
3)      Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau kata yang keberadaannya di dalam teks dapat dimunculkan atau dihilangkan. Misalnya :
·         Dia berangkat ke kantor selalu menaiki (bus) Transjakarta.
·         Pesepak bola kenamaan itu berasal dari (Kota) Padang.
4)      Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau angka yang digunakan sebagai penanda pemerincian.
Misalnya :
·         Faktor produksi menyangkut (a) bahan baku, (b) biaya produksi, dan (c) tenaga kerja.
·         Dia harus melengkapi berkas lamarannya dengan melampirkan (1) akta kelahiran,
(2) ijazah terakhir, dan
(3) surat keterangan kesehatan.



m.    Tanda Kurung Siku ([...])
1)      Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan atas kesalahan atau kekurangan di dalam naskah asli yang di- tulis orang lain. Misalnya :
·         Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
·         Penggunaan bahasa dalam makalah harus sesuai [dengan] kaidah bahasa Indonesia.
2)      Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang terdapat dalam tanda kurung. Misalnya :
·         Persamaan kedua proses itu (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman 35─38]) perlu dibentangkan di sini.

n.      Tanda Garis Miring (/)
1)      Tanda garis miring dipakai dalam nomor surat, nomor pada alamat, dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim. Misalnya :
·         Nomor: 7/PK/II/2013
·         tahun ajaran 2012/2013
2)      Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, serta setiap. Misalnya :
buku dan/atau majalah          ‘buku dan majalah atau buku atau
majalah’
3)      Tanda garis miring dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau pengurangan atas kesalahan atau kelebihan di dalam naskah asli yang ditulis orang lain. Misalnya :
Buku Pengantar Ling/g/uistik karya Verhaar dicetak beberapa kali.
o.      Tanda Penyingkat Apostrof (‘)
Tanda penyingkat dipakai untuk menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun dalam konteks tertentu. Misalnya :
·         Malam ‘lah tiba. (‘lah = telah)
·         5-2-‘13 (’13 = 2013)

BAB III

PENUTUP


A.     Kesimpulan

Ejaan adalah penggambaran bunyi bahasa (kata, kalimat, dan sebagainya) dengan kaidah tulisan (huruf) yang distandardisasikan dan mempunyai makna. Ejaan merupakan kaidah yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasa demi keteraturan dan keseragaman bentuk, terutama dalam bahasa tulis.
Pembentukan kata itu adalah proses mengolah leksem atau huruf yang menjadi kata. Dan ragam pembentukan kata dalam Bahasa Indonesia. Sebagian besar kata dibentuk dengan cara menggabungkan beberapa komponen yang berbeda.

B.      Saran

Apa yang kita mengerti dan pahami tentang ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (EYD), sekiranya dapat kita praktekkan dalam penulisan makalah agar bahasa kita ini tidak tercampur dengan kata-kata asing.




DAFTAR PUSTAKA


Kasih.Ejaan dan Tanda Baca.<https://googleweblight.com/i?u=https://bundakasih.wordpress.com/&hl=id-ID>.diakses kamis 1502-2018 pukul 10.00 wib.
http://keluargasantososejahtera.blogspot.co.id/2011/03/makalah-bahasa-indonesia-eyd-tanda-baca.html?m=1
http://markijar.com/2017/05/pedoman-ejaan-yang-disempurnakan-eyd.html?m=1
Nillas, S.Pd., Risha.Pedoman Resmi EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), Tangerang:Wahyu Media,2016.
Nufus,S.Pd., Hayatun.Pedoman Resmi EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), Tangerang:Wahyu Media,2016.

Post a Comment for "Makalah Ejaan Yang Disempurnakan - Bahasa Indonesia - maswijaba"